budidaya durian




TANAMAN DURIAN





 
  






  OLEH: Miftahul ma’ruf
    NPM:1231110919

JURUSAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRIDINANTI PALEMBANG
2014/2015



DURIAN

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Plantae
(tidak termasuk)
Eudicots
(tidak termasuk)
Rosids
Ordo:
Malvales
Famili:
Malvaceae
Genus:
Durio
Spesies:
D. zibethinus

Sama halnya dengan salak, Durian merupakan salah satu jenis tumbuhan tropis yang berasal dari Asia Tenggara. Buah durian sangatlah di gemari oleh kalangan masyarakat, akan tetapi banyak juga yang kurang suka terhadap buah yang satu ini. Buah ini rasanya manis dan baunya harum yang akan menggoda nafsu anda untuk segera memakanya.


Durian adalah buah tropis, tumbuh di sekitar khatulistiwa hingga ketinggian 800 m dpl., serta menjauh hingga garis lintang 18° di Thailand dan Queensland.

Syarat tumbuh dan pemupukan

Curah hujan yang disukai sekurang-kurangnya 1500 mm, yang tersebar merata sepanjang tahun. Akan tetapi, periode kering 1-2 bulan akan merangsang perbungaan lebih baik. Musim raya buah durian biasa terjadi setelah tahun dengan musim kemarau yang berkepanjangan. Musim panen antara dapat terjadi dengan produksi buah yang biasa-biasa saja.
Tanaman ini memerlukan tanah yang dalam, ringan dan berdrainase baik. Derajat keasaman optimal adalah 6-6,5. Tanah masam, seperti latosol atau podsolik merah kuning memerlukan pengapuran agara tanaman tumbuh baik. Durian muda juga memerlukan lindungan alam, agar pohon atau cabang-cabangnya yang sarat buah tidak patah diterpa angin yang kuat. Muka air tanah tidak boleh kurang dari 150 cm karena air tanah yang terlalu rendah berakibat buah kurang manis.
Pemupukan dilakukan dengan membuat parit kecil di sekeliling pohon lalu ditaburi pupuk kimia. Pupuk kandang diberikan pada waktu penanaman bibit. Pemupukan dengan kadar NPK yang sama diberikan segera setelah musim berbuah, sedangkan pemupukan dengan kadar P yang lebih tinggi diberikan setelah flushing selesai untuk mempersiapkan pembungaan.

Penanaman dan pemeliharaan

Penanaman durian secara komersial di perkebunan dilakukan dengan jarak tanam 10 m × 10 m hingga 12 m × 12 m, tergantung dari ukuran tanaman/kultivarnya.[2] Apabila tanaman masih kecil, tumpang sari dapat dilakukan. Pengendalian gulma juga perlu dilakukan.
Pemeliharaan mencakup pemupukan, pemangkasan (pembentukan dan peremajaan), pengairan (bila diperlukan), dan pengendalian hama dan penyakit.[2] Tajuk durian yang baik adalah berbentuk kerucut membulat, dengan cabang utama mendatar ke samping.

Perbanyakan

Perbanyakan durian di desa-desa umumnya dengan menggunakan biji. Perbanyakan dengan biji juga dilakukan untuk memperoleh batang bawah dalam perbanyakan vegetatif. Biji durian bersifat recalcitrant, hanya dapat hidup dengan kadar air tinggi (di atas 30% berat) dan tanpa perlakuan tertentu hanya sanggup bertahan seminggu sebelum akhirnya embrionya mati. Dengan demikian biji harus segera disemaikan setelah buahnya dibuka.
Pohon durian mulai berbuah setelah 4-5 tahun, namun dalam budidaya dapat dipercepat jika menggunakan bahan tanam hasil perbanyakan vegetatif. Teknik-teknik yang dipakai adalah pencangkokan (jarang dilakukan), penyusuan (jarang dilakukan), penyambungan sanding (inarching), penyambungan celah (cleft grafting), atau okulasi (budding).[2] Teknik yang terakhir ini sekarang yang paling banyak dilakukan. Beberapa penangkar sekarang juga menerapkan penyambungan mikro (micrografting). Teknik ini dilakukan pada saat batang bawah masih berusia muda sehingga mempercepat masa tunggu. Tercatat bahwa durian hasil perbanyakan vegetatif mampu berbunga setelah 2-3 tahun.
Durian juga memungkinkan diperbanyak secara in vitro (kultur jaringan).


Jenis-jenis Buah Durian
Seperti halnya buah-buahan lain, Durian juga memiliki banyak jenis. Berdasarkan kultivar unggul nasional, terdapat lebih dari 55 jenis durian budidaya. Beberapa di antaranya adalah:
  • Durian Gapu dan Kelud dari Kediri Jawa Timur
  • Ligit dari Kutai
  • Mawar dari Long Kutai
  • Ripto dari Trenggalek
  • Salisun dari Nunukan
  • Selat dari Muara Jambi
  • Sememang dari Banjarnegara
  • Tong Medaye dari Lombok
  • Bentara dari Bengkulu utara
  • Bido Wonosalam dari Jombang Jawa Timur
  • Perwira dari Majalengka
  • Petruk dari Jepara Jawa tengah
  • Soya dari Ambon Maluku
  • Sunan dari Boyolali.
Sebenarnya masih ada jenis durian dari beberapa ras lokal, tetapi keunggulannya belum terjamin. Beberapa di antaranya adalah: Durian Parung, durian Lampung, durian Jepara, durian Palembang, dan durian Padang. Kesemuanya ini tentunya memiliki citarasa dan ciri khas tersendiri.

Kandungan Gizi dan Manfaat Buah Durian
Durian (Durio zibethinus)
Nilai nutrisi per 100 g (3.5 oz)
Energi
615 kJ (147 kcal)
Karbohidrat
27.09 g
- Serat pangan
3.8 g
Lemak
5.33 g
Protein
1.47 g
Air
65g
Vitamin C
19.7 mg (33%)
Kalium
436 mg (9%)
Hanya bagian yang dapat dimakan, mentah atau beku.
Brangkasan: 68% (Shell and seeds)
Sumber: USDA Nutrient database
Persentase merujuk kepada rekomendasi Amerika Serikat untuk dewasa.

Pada setiap 100 g salut biji durian ternyata telah terbukti mengandung 67 gram air, 28,3 gram karbohidrat, 2,5 gram lemak, 2,5 gram protein, 1,4 gram serat, dan memiliki nilai energi sebesar 520 kJ. Selain itu durian juga ternyata mengandung vitamin B1, vitamin B2, vitamin C, serta kalsium dan fosfor. Manfaat buah durian itu sendiri di antaranya: bagus untuk kesehatan kulit, membantu pencernaan, mengatur kadar gula merah, membantu melawan depresi, menghindari dan mengurangi sembelit, mengontrol diet, mengontrol suhu badan, membantu berhenti merokok, dan mencegah stress.



Daftar pustaka




Eudikotil dan Eudikotiledon (bahasa Inggris: Eudicots, eudicotyledon)[1] adalah istilah yang diperkenalkan oleh Doyle & Hotton (1991) bagi sekelompok tumbuhan berbunga yang pernah disebut tricolpatae atau dikotil "non-magnoliids" oleh botaniwan-botaniwan sebelumnya. Istilah itu berarti "dikotiledon sejati" dan anggota-anggotanya memiliki ciri-ciri dikotiledon yang khas. Kelompok dikotil yang tidak termasuk dalam klad ini kadang-kadang disebut paleodicots ("dikotil purba", karena berpisah di awal proses evolusi) tetapi tidak pernah populer karena sebagai kelompok tidak monofiletik. Kelompok ini dipakai dalam sistem klasifikasi APG (I dan II).
Kelompok eudicots mencakup banyak tumbuhan ekonomi, seperti jambu, kapas, polong-polongan, kubis-kubisan, kenikir-kenikiran, mawar, ketela pohon, dan karet/para.
Dalam biologi, tumbuhan merujuk pada organisme yang termasuk ke dalam Regnum Plantae. Di dalamnya masuk semua organisme yang sangat biasa dikenal orang seperti pepohonan, semak, terna, rerumputan, paku-pakuan, lumut, serta sejumlah alga hijau. Tercatat sekitar 350.000 spesies organisme termasuk di dalamnya, tidak termasuk alga hijau. Dari jumlah itu, 258.650 jenis merupakan tumbuhan berbunga dan 18.000 jenis tumbuhan lumut. Hampir semua anggota tumbuhan bersifat autotrof, dan mendapatkan energi langsung dari cahaya matahari melalui proses fotosintesis. Karena warna hijau amat dominan pada anggota kerajaan ini, nama lain yang dipakai adalah Viridiplantae ("tetumbuhan hijau"). Nama lainnya adalah Metaphyta.
Rosidae adalah nama botani pada peringkat subkelas berdasarkan International Code of Botanical Nomenclature (ICBN). Penggunaan subkelas ini akan bervariasi tergantung sistem taksonomi yang digunakan, satu-satunya persamaannya adalah keberadaan famili Rosaceae di bawahnya.
Berdasarkan sistem Cronquist tahun 1981, Rosidae terdiri dari:
Namun ada juga yang menuliskan Crossosomatales, Geraniales, Myrtales, Fabidae (Celastrales, Cucurbitales, Fabales, Fagales, Huaceae, Oxalidales, Malpighiales, Rosales dan Zygophyllales), Malvidae (Brassicales, Dipentodontaceae, Gerrardinaceae, Malvales, Sapindales, dan Tapisciaceae), Picramniaceae, dan Vitaceae sebagai bagian dari Rosidae, karena saling tumpang tindih antara satu sistem dengan sistem lainnya terkait klasifikasi suatu spesies seringkali terjadi.

Komentar

Posting Komentar